Friday, June 28, 2013

Cerita Raka - 3rd Opinion

Entah kenapa ya, mulai males dan kesel deh nganter Raka terapi ke hermina. Bahkan udah sebulan ini, Raka cuma terapi di JMC tok. Gak ada dateng-dateng lagi ke hermina. Dan lucunya, pihak hermina juga gak ada tuh nelepon nanyain kabar Raka. Menyebalkan ya..

Pasalnya sebulan yang lalu ada kejadian sangat tidak menyenangkan di hermina yang bikin gw jadi mulai males deh nganter Raka terapi lagi disana. Berawal dari terapisnya Raka ternyata cuti, tapi ngga ngasih kabar sama sekali. Minimal sms kalau dia hari itu berhalangan. Tapi ngga ada sama sekali, sedangkan gw+Raka sudah tiba di hermina, siang-siang pulak panas-panasan naik motor dianter omanya Raka. Ternyata terapisnya gak ada. Bete kan tuh.

Akhirnya daripada sia-sia udah jauh-jauh dateng tapi ngga terapi, (disaranin sama ibu-ibu yang anaknya terapi juga) ya udah minta sama terapis yang kebetulan kosong aja jadwalnya. Akhirnya ada satu terapis lagi nganggur, dia sih bilang oke aja terapi sama dia tapi cuma sampai jam 11 aja, waktu itu jam sudah menunjukkan 10.30, sedangkan jadwal terapi raka biasanya jam 10.15, brarti cuma dikasih waktu 30menit dari yg biasa per sesi terapi adalah 40menit. Gw pikir okelah, gapapa daripada sia-sia. But what? Gak sampe 20menit, Raka udah keluar dan sesi terapi berakhir. Euh..? Bingung kan? Mo protes juga ga bisa lah. Udah bayar di kasir. Nyesel dan kesel. Efektif gitu cuma 20 menit terapi? Belum juga kering air mata Raka dipaksa masuk ruang terapi, eh udah selesai lagi.

Dan itu satu dari beberapa alesan gw lebih milih hengkang deh dari hermina. Salah satunya lagi karena masalah observasi periodik ke tim dokter tumbang. Setelah pertama kali konsul di tim dokter tumbang anak di hermina bulan desember tahun lalu. Berarti sekitar 7 bulan lalu, sampai sekarang Raka belum konsultasi lagi sama dsa/psikolog. Padahal seharusnya periodik per 3 bulan rutin ada observasi ke tim dokter. Tapi gatau kenapa pihak terapis Raka di hermina gak juga ngasih rujukan untuk konsultasi ke tim dokter. Tiap kali ditanya, 'kapan Raka harus konsul dokter lagi?'. Jawabnya selalu,'nanti ya bu kita kabari'. Tapi ngga juga tuh sampai sekarang. :|

Dan itu menyesatkan, sangat. Setidaknya gw dan suami butuh banget penjelasan dan masukan yang pasti tentang kondisi Raka. Karena percuma nanya sama terapis, yang diceritain cuma aktivitas yang sama berulang-ulang setiap kali terapi.

Beberapa waktu lalu, lupa tepatnya kapan. Ceritanya mau cari 2nd opinion ke klinik tumbang lain. Kita nemu KTK satriakid didaerah kranji, akhirnya buat janji konsultasi. Pengennya sih konsultasi sama psikolognya, cuma jadwalnya hari sabtu dan sudah penuh katanya. Jadi kita ditawarin konsultasi terapis hari minggunya. Okelah kita iyain. Bertemulah dengan Pak Han, kepala terapis di satriakid katanya. Beliau cerita panjang lebar tentang penanganan ABK dan metode terapi. Dan intinya Raka disarankan untuk terapi SI dan Okupasi. Dan hasil bertanya tentang kondisi Raka, beliau mengatakan Raka termasuk anak hiperaktif. 

Hmm... :|

Setelah itu kita belum kasih keputusan mau ikut terapi di satriakid atau ngga. Mengingat lokasinya jauh bener, lebih jauh dari jarak rumah ke hermina. Jadi opsi kita tetep JMC dulu aja deh karena lebih deket ke rumah mama, jadi bisa numpang neduh after terapinya Raka.
Rasanya masih belom puas nyari tau tentang keistimewaan Raka. Akhirnya nyari 3rd opinion deh. Kebetulan terapi SI di JMC juga udah lebih dari 24x pertemuan, kemarin terapis di JMC nawarin konsul dengan dokter Anita di JMC. Akhirnya gw iyain deh,  jadwalnya hari ini jam 1 siang tadi.

Finally, ketemu dokter yang enakeun buat ditanya-tanya. Karena sebelum-sebelumnya gw cuman manggut-manggut aja kalo ditanya dokter sambil gak nyerap penuh infonya. Dan tadi gw banyak nanya dan minta saran. Begitu gw tanya tentang diagnosa Raka sebenernya apa. Beliau bilang, Raka ada ke arah autis, tapi Raka ada kontak mata. Sedangkan anak yang benar autis biasanya tidak ada kontak mata sama sekali. *iya gitu?* Berasa minim info gini deh.. blank jadinya.

Well, itulah...banyak opini banyak hasil. Beda-beda pula. Dari speech delayed, hiperaktif, autis. Apa lagi label Raka nanti? Who knows lah, yang paling penting tindakan tepat yang harus diberikan untuk Raka.
Intinya : NO TELEVISION and NO GAME and MORE STIMULATION. Padahal selama ini tuh hiburan Raka sehari-hari. >_<' *Ya Allah, gw berdosa banget deh sama Raka*

Semangad ah, de..
Do best for Raka!!! ^^

Sunday, June 16, 2013

Cerita Raka - Labeling itu perlu?

Beberapa minggu belakangan, kami (saya dan ayahnya Raka) berkutik tentang seputar masalah diagnosa pasti tentang Raka. Apakah memang hanya 'speech delayed' atau ada kecenderungan ke arah lain. Karena semakin kesini, sifat-sifat unik Raka mulai muncul dan makin terlihat berbeda dengan anak seumurannya. Dalam hal komunikasi dan bersosialisasi Raka sudah jelas tertinggal.

Beberapa waktu lalu, saya tenggelam dalam diskusi di sebuah group 'Room For Children' di salah satu group situs jejaring sosial. Ada artikel mengenai 'Mengenal autisme pada anak', dan itu menggelitik saya untuk mencocokkan salah satu bahkan semua ciri autism dengan Raka. Dan cocok. Itu menurut saya. Raka punya sebagian ciri autistik, begitu batin saya berucap.
Benarkah? Memang sampai sekarang, kami belum lagi mencoba konsultasi dengan dsa atau psikolog anak yang ahli dibidang ini. Masih praduga aja tentang sifat autistik-nya Raka. Tapi saya yakin, ada sesuatu yang salah. Jadi bertanya-tanya sendiri, jangan-jangan selama 6 bulan terakhir raka terapi SI itu tidak sesuai. Harusnya perlu penanganan lebih tepat, entah apa itu saya sendiri belum punya informasi yang cukup.

Sedih. Bingung. Kesal.

Bukan kesal karena keadaan Raka, tapi lebih kesal ke diri sendiri. Kenapa saya bertindak lambat, dan tidak giat menggali informasi. Saya jadi sering menyalahkan diri sendiri.

Saya juga sedikit merasa menyesal karena merasa sudah membuang waktu 6 bulan yang berharga kemarin hanya dengan memberikan terapi SI di KTK saja. Tanpa saya sendiri melakukan sesuatu di rumah, karena saya masih bingung harus berbuat apa. Bahkan seringkali saya berlebihan meluapkan emosi pada Raka. 

Ah. Menyesal.

Seringkali juga hari-hari yang kami lewati hanya berujung pada tangisan kami berdua ditengah rumah. Saya yang menangis karena emosi, dan Raka yang menangis karena kepolosannya.
Ya Allah.. Maafkan bundamu ini, nak.. :'(

....

Mengenai masalah anak berkebutuhan khusus ini, sepenting apakah label diberikan? Berdasarkan diskusi di forum yang saya sebutkan diatas, dra. Dyah Puspita, Psi. seorang psikolog yang mendalami tentang autism dan juga memiliki anak autistik,  menegaskan, agar kita para orang tua yang memiliki ABK seharusnya lebih fokus pada SOLUSI, daripada hanya sekedar sibuk memberi label kondisi si anak.

Saya setuju dengan pendapat itu, tapi kadang masih ada sedikit kegalauan juga, dimana dan bagaimana saya mencari solusi yang tepat. :'(

Sejujurnya kalau ada orang yang mau mengajari saya untuk bagaimana memberikan pendidikan dan terapi di rumah atau setidaknya memberitahu apa saja informasi tentang apapun yang berkaitan dengan pencarian solusi yang harus saya ambil, saya bersedia belajar dari awal. Tolong bantu saya.. :(

Sungguh, saya awam. Keluarga pun tidak ada yang membantu. Mereka hanya bisa bertanya, kenapa ini, kenapa itu, kenapa bisa begini begitu dsb. Hanya bisa menyalahkan. Tapi tidak memberi solusi.

Seperti biasa.

Memang kenapa kalau anak saya ternyata autis? I love him more than anything. Dan Insyaallah, saya menerima semua keadaan ini. Yang saya perlu saat ini hanya dukungan dan informasi.

Itu saja.

Semoga kami bisa secepatnya memberikan solusi yang tepat untuk Raka. Rasanya setiap detik waktu ini sungguh berharga.

Sungguh berharga.

Friday, May 31, 2013

Cerita Raka - Another Therapy Places

Long time no blog... :) Pengen cerita tentang terapinya Raka lagi.
Umur Raka sekarang udah 2 tahun 2 bulan (26m).. Dan yeap, sampai sekarang masih aja belum ada perubahan dengan bicaranya. Masih emoh nerima perintah, masih susah diajakin niru dan masih belom juga mengeluarkan satu kata yang bener-bener ada artinya. Tetep cuman keluarnya "mamamama", "mimimimi", "pipipipi", "bibibibi".. dan berbagai babbling yang ga jelas. 

Jadwal terapi Raka tadinya cuma 1x seminggu, di KTK Hermina Bekasi Barat. Karena tiap kali minta jadwal lain supaya terapinya nambah, susahnya ampun deh. Selalu bilangnya waiting list. Atau bilangnya cuma "Masalahnya pasiennya banyak, tapi yang lulus sedikit". Jadi gak ada jadwal kosong lagi. Sempet kesel sih, agak down juga, kalo Raka terapi cuma 1x seminggu dan cuma 40menit per sesi, kayaknya gak akan optimal deh terapinya. Dan berbekal tanya ibu-ibu yang terapi juga di Hermina, ternyata banyak yang anaknya gak cuma terapi di Hermina. Tapi di beberapa tempat, salah satunya di JMC. Wow, ternyata di JMC ada klinik tumbuh kembangnya. Sumpah baru tau. Itu rumah sakit kan deket banget sama rumah mama, yang selama ini gw tinggal sedari kecil. Hohoho. 

Akhirnya minta pendapat si akang buat coba cari jadwal terapi di JMC, dan dia setuju. Jadilah kami sempetin untuk konsultasi ke terapis di JMC untuk minta jadwal terapi. Biasanya orang yang mau terapi kan harus konsultasi dulu dengan psikolog atau dsa yang ada disana, atau at least kalo emang cuma mau pindah tempat terapi, ada surat rujukan dari dokter/psikolog di tempat lama. Tapi Alhamdulillah, kami gak perlu loh konsultasi ulang atau pake surat rujukan. Tinggal nentuin jadwal terapi SI dan nunjukin buku catatan terapis selama Raka terapi di Hermina. Alhamdulillah banget kan. Jadi udah dua bulan belakangan ini, Raka terapi di dua tempat.. di JMC dan Hermina. Dan Alhamdulillah lagi, mulai minggu ini juga jadwal di Hermina nambah lagi jadi 2x seminggu. Jadi total terapi Raka 2x di JMC dan 2x di Hermina, jadi 4x seminggu terapi SI. 

Loh koq gak sekalian terapi wicara?
Nah itu lah masalahnya, dua-duanya tempat terapi itu memberikan pernyataan yang sama, "Raka kayaknya belum bisa dimulai terapi wicaranya, karena anaknya belum siap"...

Oh No. Jadi kapan siapnya?

Masalahnya, berasa berpacu dengan waktu. Raka makin gede, tapi belum ada hasil maksimal. Semua cuma bilang sabar, sabar dan sabar. Emang sih, bukannya gw gak sabaran. Tapi kesal dengan waktu ini loh, Raka sebentar lagi masuk ke usia pre-school. Pengennya gw, Raka bisa sekolah normal. Tapi terbentur dengan anaknya belum bisa bicara. Jadi serba salah. Sedangkan sampe sekarang pun, Raka belum ada tuh konsultasi lagi tentang diagnosa sebenernya. Apa bener anak ini cuma speech delayed? Gak jadi yang lain? Deg-degan rasanya, masih terus bertanya-tanya. Sebenernya anak gw ini kenapa sih? :'(

Ya. Begitulah. Raka sampai sekarang belum ada peningkatan signifikan. Bahkan hampir 6 bulan terapi SI ini, belum ada menunjukkan sifat patuh. Bahkan mood-nya naik turun, sampe sekarang pun tiap masuk ruang terapi, nangiiiiis mulu. Nangis pas masuk aja sih, pad udah di dalem mah anteng main.. Hehehe.. Tapi sedikitnya mah ada koq perubahan dari segi konsentrasinya. Raka udah bisa fokus, fokus kalo ayah/bundanya ngajak ngobrol (walau gak lebih dari 10 detik) :-P Udah gak gampang ngamuk kalau puzzlenya gak beres-beres, udah bisa numpuk mainan donat dari yang terbesar sampai terkecil.. Insyaallah,  walau bertahap tetap ada peningkatan sekecil apapun.

Cuma perlu bersyukur lebih banyak deh, Allah kasih Raka jarang sakit, Alhamdulillah sehat terus dan tambah lincah. Mudah-mudahan ada jalan keluar buat kami. 
Jagalah malaikat kecilku, Ya Allah.. :')
Aamiin.

Sunday, March 17, 2013

New Look

How is my new blog header? Cute, isn't it? Hehehehe... :P
Tiba-tiba iseng pengen ganti header blog, eh jadinya koq girly dan kekanakan gini ya? :D Biarin deh, yang penting suka-suka hatiku sajah. Toh aku kan emang cewe, manis dan masih muda juga. *deuuuuh, penyakit narsis kumat*

Dari tadi ngulik sotosop, image editor, kode html dan css, dan berbagai template blog. Wow, I already missed them a lot. Deg-degan looh, padahal biasa aja ya. Tapi dah lamaaaa banget rasanya gak ngulik-ngulik gini. Biasa ngulek bumbu dapur, sekarang ketak-ketik lagi di leptop. Amaze deh masih bisa, walo bantuan tools lebih banyak timbang bikin sendiri. Heheheh... Plus jadi bantuin si ayah juga bikin header website project-nya. Alhamdulillah, sedikit tapi berguna :')

Somehow,
I missed about these coding things... :|

Friday, March 08, 2013

Demi Waktu


Kemarin
Bukan sekarang
Bukan pula esok....

Selalu berganti
Tak pernah sama

Aku pun demikian....






Sunday, March 03, 2013

Two Years



Happy milad my son,

- Bunda - 

Friday, February 01, 2013

Officially New Home

Yippieee.. Akhirnya, keluarga kecil kami bisa bernaung di rumah kami sendiri. Our small house. :)

Yep, tanggal 13 Januari lalu, kami memaksakan diri akhirnya untuk segera pindah ke rumah kami. Walaupun saat itu belum sepenuhnya selesai renovasinya. Belum ada pagernya pula.. hehehe.. Tapi alhamdulillah bagian dalam rumah sudah beres, sudah dicat, pintu depan dan dua pintu kamar juga sudah diganti (walau belum di cat juga) :P Jadi bener-bener pindah dalam keadaan seadanya.. Heheheh. Tapi tak apa lah, yang penting rumah sendiri. Alesan cepat-cepat pindah juga karena masa waktu kontrakan sudah mau habis pertengahan Januari ini. 

Dan rumah kami masih kosong melompong. Hahahha, belum punya barang-barang juga. Bahkan sofa aja belum beli. Dan kami nerima tamu kalau ada oma sama kakeknya Raka dateng, dialas karpet aja deh :)) But it's fun.. Raka bisa lari-lari leluasa tanpa harus nabrak sana sini.. Hihihi ^^ Masih banyak pe-er euy untuk bikin cantik rumah ini. Mungkin akhir tahun 2013 ini baru beres juga. Perjuangannya cukup menguras pikiran si ayah nampaknya, dan si saya mah senyum-senyum aja deh sambil doa "Ya Allah, minta sofa, kanopi,  teralis jendela dan pintu, beresin taman, dan barang-barang lainnya untuk rumah kami Ya Rabb. Amin" :)

Oiya, ada kejadian menyebalkan juga pasca pindahan kemarin. Rumah kami kebanjiran!! Oh well, padahal baru empat hari kami menempati ini rumah. Ceritanya, waktu itu hari selasa tanggal 15 Januari, hujan deras banget dan si ayah udah berangkat ke kantor. Saya cuma berduaan aja sama Raka, udah deg-degan aja liat jalanan depan rumah mulai menggenang. Untungnya (masih beruntung) rumah kami ini lebih tinggi dari jalan. Alhamdulillah air ngga sampe masuk, cuma sampai batas tembok pagar (yg belum ada pagarnya) :P padahal kalo turun ke jalan, udah hampir selutut aja itu tinggi genangan. Bahkan rumah tetangga yang diseberang rumah kami, karena tanahnya lebih rendah dari rumah-rumah sejajaranku, jadi airnya udah masuk aja kedalam rumah. Wow banget deh. 


Ini banjir hari selasa, baru sampe garasi.
Alhamdulillah gak sampe masuk rumah :)

Tapi akhirnya surut juga keesokan harinya, bahkan hari rabu itu gak ada hujan sama sekali, aku sama Raka udah bisa main-main keluar rumah, ngeliat rumah-rumah lain yang lagi bersih-bersih pasca banjir selasa. Kasian ya :( Denger-denger sih, kenapa perumahan kami bisa kedatengan banjir gitu karena tanggul di kali kampung sebelah jebol dan pembatas antara perumahan kami dengan perumahan lain sengaja di jebol supaya banjirnya merata dan gak kena mereka sendiri (beeh!!) >_<" tega bener sih.. Banjir koq bagi-bagi.

Tapi, jangan kira cerita banjir berenti sampai disitu... Sedari kamis dini hari (17 Jan), hujan deras turun lagi, aku dan si ayah udah kebat-kebit aja gak bisa tidur sambil sesekali liat air mulai menggenang lagi depan rumah. Sampai subuh, airnya sudah setinggi batas pager rumah. Dan sekali lagi barisan rumah diseberang rumah kami, kembali terendam banjir T.T si ayah udah bingung aja mau ke kantor gimana. Dan hari itu harusnya jadwal Raka terapi SI, tapi udah gak mikir lagi deh mau berangkat terapi.

Si ayah akhirnya ijin ke kantor untuk datang siang, karena mungkin nanti bisa surut. Akhirnya pagi itu kami sebenernya masih sempat sarapan, mandi, bahkan main-main bertiga. Tapi gak sampe waktu 10 menit pas jam 8 pagi, air makin naik ke atas sudah nyampe garasi depan rumah aja. Udah siap-siap Assalammualaikum aja tu di depan pintu. Sekejap kami langsung mengamankan barang-barang dirumah.. Bahkan barang kami belum sepenuhnya dikeluarkan dari kerdus loh. Semua kerdus-kerdus itu dinaikkan keatas meja dapur. Kasur dan baju-baju diamankan diatas tangga. Sebisa mungkin semua barang ada diatas, jangan dilantai. Sampe kulkas kita gotong berdua, dialasin sama meja kecil dibawahnya. Gak lama air mulai meluap dari lubang kamar mandi dan celah-celah pintu depan.. well finally.. rumah kami jadi kolam deh.. Raka malah asik-asik aja main air.. lari sana lari sini, loncat-loncatan nyeburin diri.. = ='

Dan air sampe udah selutut aja didalam rumah.. T_T Bayangkan kalo di jalanan sudah setinggi kira-kira sepinggang aku.. huhuhu...
Bingung mau kemana, gak ada tempat buat duduk, akhirnya beres-beres baju bawaan untuk keluar rumah. Dan kami mengungsi di dekat mushola kompleks, dimana warga lain juga ngumpul. Asyiknya, ngungsinya dijemput pake perahu karet. Hahaha, pengalaman pertama deh naik perahu karet pas banjir, beda adrenalinnya sama waktu rafting di Situ Cileunca dulu. :)))

Gak lama pun setelah telepon-teleponan sama papaku, kami dijemput (aku dan Raka, si ayah gak ikut, nungguin rumah katanya) ngungsi kerumah papa yang ternyata juga banjir. Hahhaha. Dan kami numpang dirumah tetangga yang lebih dangkal banjirnya akhirnya. Soalnya rumah papa lebih dalem lagi kebanjiran. :P
Oh.. what a day deh. Cape banget, badan dah remuk bawa-bawa tas ransel dibelakang, gendong Raka didepan.. :(( 

Rumah kami kebanjiraaaaan!! >_<

Besoknya rumah papa surut, aku bantu mama-papa beberes barang dirumah papa. Si ayah yang katanya mau dateng, ga dateng-dateng juga. Padahal bilangnya rumah udah surut. Tapi jalanan depan rumah belum sama sekali. Aku gak tenang jadinya, minta papa anterin aku pulang. Dan bener dong, jalanan komplek masih menggenang hampir sepinggang aku. Memaksa ke rumah deh akhirnya, sambil nyelup-nyelup geli sama air warna coklat.. Hiiiy.. :P

Alhamdulillah tapinya, ternyata rumah udah surut, banjirnya kembali sebatas tembok pagar.. Dan kami bertiga, terkurung deh dirumah sampe surut besok harinya... Si ayah pun jadi gak masuk kantor dua hari karena gak bisa kemana-mana sama sekali. Pengalaman banget deh, a very hard weekend banget.. Cucian numpuk puk puk, beberapa kaos aku dan si ayah, jadi korban untuk jadi lap pel.. dan dibuang.. :)))

Dan liat berita-berita tentang banjir, kayaknya tahun ini gede banget ya bencana banjirnya. Liat Jakarta kelelep gitu.. Ckck.. Allah Maha Adil, mudah-mudahan cobaan ini jadi teguran buat kita yang masih juga kurang bersyukur atas nikmat-Nya. 

Moment ini bakal jadi kenangan lucu deh dalam keluarga kecil kami. Rumah baru, tapi kebanjiran.. Hehehhe.. Mudah-mudahan gak ada pengalaman gini lagi di tahun-tahun mendatang, biar rumah kami jadi berkah rejeki dan kehidupan kami di masa depan. Aamiiiiin ^^

Wednesday, January 02, 2013

Liburan Tahun Baru

Happy new year of 2013... :)

Walau kemarin pas malem tahun baruan, gak ada perayaan apa-pun, karena kami bertiga, udah tertidur sedari jam 8 malam, dan harus bangun setidaknya jam 3 subuh untuk siap-siap pulang ke bekasi dan ngejar kereta jam 5 subuh. Hehehehe.
But, we're happy.. Karena tanggal 1 januari 2013, adalah pertama kalinya kami naik kereta api bertiga.. Yaaaay \(^^)/ *noraknyaaah* 
Mengingat Raka tuh seneng banget liat kereta api gara-gara si little engine Thomas&Friends-nya itu. Jadilah ayahnya Raka menawarkan pake kereta api buat pulang ke bekasi. :))

Liburan tahun baru kemarin, sekitar empat hari, kami muter-muter tempat dan menghabiskan banyak waktu di jalan. Gak kena macet sih, cuma karena harus bolak balik kesana kemarinya itu yang bikin lama dijalan. Hari pertama, kami berkunjung ke rumah Nda, ketemuan sama si mungil Zidan. :) Tadinya sih mau jemput mereka buat ajak ke Dufan, mo pake tiket gratis yang dikasih kantor ayahnya Raka. Tapi ternyata ayahnya Zidan malah masuk kerja. Gak jadilah ke dufannya. So, kami cuman keluar makan dan beli oleh-oleh di sekitar Taman Kencana. Fun enough lah.. Walau cuaca gak enak, panas bin lembab.. Hareudang juga ternyata di Bogor ya ^^

Sorenya kami langsung bertolak ke Bandung, niat bener yah, dari Bekasi ke Bogor dulu.. terus langsung cabut ke Bandung.. :P *si ayah udah pegel bener deh tuh kaki nyetir mobil* Sempet sampe salah masuk tol yang bikin kita muter-muter ngabisin waktu dijalan deh, pleus jalanan yang lumayan ramai lancar sepanjang Cipularang.. :) 

Dan dua hari berikutnya, kita cuma jalan-jalan di Bandung alakadarnya, maksudnya, se-yang kesampean aja. Soalnya mau kemana-mana, macetnya itu looh.. = =' jadi kerasa sekarang, jadi orang luar Bandung yang mengunjungi Bandung pas musim liburan. Plat B dimana-mana.. Hohoho. Mo kesini, gak dapet tempat parkir, mo kesana macet, hadeuh hadeuh.. Jadi cuman muter-muter doang tanpa tujuan.

Tapi kami sempat ke taman lalu-lintas, buat ngenalin ke Raka tempat main anak-anak. Walau ujung-ujungnya cuman naik kereta yang muterin taman lalu-lintas, abis itu pulang. Hahhaha. Gak rame deh.. :D
Ke rumah nenek-kakek pun sepiiii, kita cuman ikut numpang bobo malem doang disana. Siang gak ada orang, nenek-kakeknya Raka dari subuh udah dagang di pasar, sepupu-sepupunya Raka pun lagi pada sakit, jadi gak sering main bareng Raka. Dan Raka pun lebih sering malah asik aja main sendiri. Padahal niatnya pengen biar Raka banyak temen di rumah. Tapi malah cuman bertiga lagi sama bunda+ayahnya. 

Mungkin yang berkesan cuma pas kita pulang ke bekasi pake KA kali ya. Soalnya berasa banget capenya, udah mah si ayah bawa koper+tas dan aku gendong-gendong Raka plus nenteng tas juga. Ribet deh, berasa mudik jauh aja. :P 

Sebenernya naik KA tuh malah bikin tambah jauh + lama sampe bekasi. Biasanya kalau naik mobil atau bis cuma sekitar 2 jam. Ini naik KA malah jadi 3 jam. Dan itu pun gak turun di stasiun Bekasi, karena kami naiknya KA Argo Parahyangan Eks, jadi kita turun di stasiun Jatinegara. *loh malah ke jakarta* hahahha. Tapi abis itu kita balik lagi nerusin ke stasiun bekasi pake KRL, sumpek-sumpekan deh, bareng sama orang-orang yang baru pada balik taun baruan, pedagang, pengamen, dan yah.. tau sendiri lah, orang-orang abis begadang itu.. aromanya seperti apa.. *ngahiliwiiiir* Hahhaha.. 

Dan kami berdiri selama di KRL, karena Raka gak mau diajak duduk.. So, saya harus gendong Raka sambil berdiri. What the.. But it's definitely fun, saya menikmati dan gak berusaha bete. Lucu aja gitu.. Berasa banget mudiknya, diliatin orang-orang karena tampang saya dan ayahnya Raka yang cupu.. hahahhah.. :)))

Begitu sampe rumah pun masih pagi sekitar jam 9an, dan kami menghabiskan waktu di rumah untuk.. Tidur! Bekasi hujan deras, jadi bikin males banget ngapa-ngapain. So, ikutan Raka aja tidur. :))

Kami juga gak sempet poto-poto ih, poto sama Nda sama Zidan gak ada, poto kesana kemari juga buram dan gak ada yang bagus, bahkan poto naik kereta pun gak ada... T_T *si ayah payah nih, meuni gak inisiatif poto-potoin Raka atau kita. Maunya dipoto melulu.. sebal. :(

Yak, sekali lagi. Liburan kali ini, tidak berkesan. Cuma dapet capenya. Hihihi.. Tapi insyaallah, dapet banget kebersamaannya. :))
Kapan-kapan, rencana pengen jalan-jalan lagi yang jauh.. pake kereta api lagi.. :) Mudah-mudahan secepatnya, setelah rumah beres, dan terapi Raka juga lulus. Amin...

Thursday, December 27, 2012

Cerita Raka - Terapi Sensori Integrasi

Hari ini, hari kamis, tadi jam 10 pagi, jadwal terapi SI-nya Raka. Dan ini sudah pertemuan yang ke-empat. Karena jadwal terapinya Raka cuma satu kali seminggu, jadi berasa lamaaaa banget, udah sebulan aja Raka ikutan terapi. Kurang efektif sih menurutku kalau cuma jadwal sekali seminggu dengan waktu terapi cuma 40 menit sajah. :(
Saya mau cerita tentang terapi raka dari mulai pertemuan ke-2 hingga ke-4 tadi. Dan sampai saat ini, di pertemuan terapi ke-4 pun, Raka masih menangis gak keruan begitu masuk ruang SI.

Pada pertemuan terapi ke-2, Raka masih asik-asik aja diajak ke lantai 5 KTK, dia seneng naik lift :) Dan masih asik juga diajak masuk ke ruang SI bareng bundanya. Tapi begitu ditinggal bunda keluar dan diam diruangan bersama terapisnya, langsung nangis tiada henti sampai akhir sesi terapi. Plus, dia muntah dan ngotorin bajunya semua, jadi terpaksa keluar ruangan SI dan bundanya harus bersih-bersih dulu itu baju Raka, mana gak bawa baju ganti, jadi cuma dibersihin pake tissu basah doang. Dan bau muntahnya masih semriwing kemana-mana. Hehehehe *noted : nanti-nanti selalu bawa baju ganti minimal satu stel baju* 
Dari segi kepatuhan, katanya Raka sudah sedikit memperlihatkan hasil, dia sudah mau diajak bermain berbagai mainan balok, bola, ayunan, dan sudah tau fungsi dari mainan itu. *gak maen lempar-lempar lagi, tapi mainan dirumah koq tetep aja dilempar-lempar* :P

Di rumah pun Raka lagi seneng main balok-balokan atau puzzle blocknya, senengnya main 'masukin ke bucket', setelah semua mainan di awur-awur, setelahnya dimasukin ke bucket. Dan permainan ini awet diulang-ulang sampe bosen. Kalau udah bosen dan kesel, ya dilempar-lempar lagi.. Booo -.-'

Kemudian pertemuan terapi SI Raka ke-3, masih sama, awalnya dia masih asik-asik aja naik ke lantai 5 KTK pake lift, apalagi perginya dianterin sama oma-nya juga, jadi rame. Dia exited muter-muter lantai 5, kebetulan hari itu lagi ada acara, jadi banyak banget anak-anak kecil dan orang tua, jadi berasa pasar deh di KTK, dan Raka dengan riangnya lari kesana kesini, bahkan beberapa kali ngetok-ngetok ruang SI. Tapi begitu ruang SI kebuka dan muncul sang terapisnya. Raka langsung mundur, kayak sadar kalau dia bakal ditinggal lagi sama bundanya di ruangan itu. Yak, dan nangis lagi deh sepanjang waktu terapi. Walau gak selebay dua pertemuan sebelumnya. Sekarang ada jeda dimana dia mau diajak main bersama Ibu Yayah. Tapi tetep sesenggukan. :(

Hari ini, setelah dua kali terapi sebelumnya (yang ke-2 dan ke-3) dianter sama omanya Raka. Sekarang si ayah yang nganter. Raka anteng, dikiranya mungkin mau main ato belanja ke carr*f*ur, begitu sampai tempat parkiran He*m*na, dia seakan sadar gitu, kalau ternyata mau terapi. Yang biasanya jalan gak mau pake digandeng tangan, tadi dia cantel jari bunda ato ayah kenceng banget, gak mau dilepas. 

Dan begitu naik lift ke lantai 5 KTK, wajahnya berubah, mulai gak nyaman. Terlebih begitu liat Ibu Yayah udah melambai-lambai di depan ruang SI, langsung kabur aja Raka, ngumpet bolak balik dibelakang bujur bunda sama ayah. = =' Untuk masuk ruang SI pun gak pake diajak jalan sendiri, harus digendong paksa. Nangis lagi deh kejer. Huft.. Ngerasa berdosaaaaa banget sama Raka deh jadinya, kalau bukan demi kebaikan dan masa depan Raka, gak mau deh gini-ginian. Gak tega. Tapi harus gimana lagi? :((

Tadi sempat ada pertanyaan yang mengganjal dihati, dan saya tanyakan pada saat konsultasi dengan si Ibu Yayah, karena waktu awal konsultasi ke tim dokter tumbuh kembang, belum ada diagnosa pasti tentang kenapa si Raka ini. Dan Ibu Yayah pun menenangkan hati saya dengan berkata, kemungkinan ke arah autisme, ADHD, hiperaktif itu tidak/belum ada. Sejauh ini, masalah Raka hanya di speech delay. Karena dari segi kepatuhan Raka cukup baik, bahkan kontak mata Raka bagus, dia sudah mau nengok kalau dipanggil walau gak cukup dipanggil sekali aja. Hanya butuh sedikit pendekatan aja, setelah itu Insyaallah bisa dilanjut terapi wicara. 

So far, dari hasil terapi SI Raka, intinya sama.. Belum ada hasil signifikan. Anaknya masih susah dipegang orang lain, dikit-dikit nempel bundanya terus. Nangis terus. Terapinya yang cuma seminggu sekali, bikin Raka gak maksimal untuk belajar. Seharusnya jadwal terapi SI Raka tuh dua kali seminggu, biar lebih optimal terapinya. Tapi waiting listnya itu looh, mau cari jadwal kosong susah banget. Kata si Ibu Yayah, emang penuh, yang masuk SI banyak, tapi yang lulusnya sedikit. Jadi ya gitu deh, penuh semua jadwalnya. Padahal saya juga inginnya mengoptimalkan terapi-nya Raka. :((

Si ayah ngajak cari second opinion di KTK lain, pengennya cari tempat terapi lain juga, yang jadwal terapinya gak penuh-penuh banget kayak disini. Tapi di bekasi, dimana lagi tempat klinik tumbuh kembang? Kebanyakan kayaknya di jakarta deh. :( Ah kejauhan, kasian Raka kalau lama-lama dijalan, terapi disini aja, jarak dari rumah ke he*m*na tuh lumayan jauh. Cape dijalan. Apa pindah ke Bandung lagi aja ya? Ikutan terapi di KTK he*m*na pa*teur? Apalagi disana Raka banyak sepupu-sepupunya. Ah, bingung nih.. :P

Minggu depan terapi lagi deh.. Yosh, harus semangad biar Raka cepet lulus. Doakan kami ya.. :)

Monday, December 24, 2012

8 Years

Yeap, it's been eight years since I become blogger.. 
Dan blog ini, menjadi rumah saya bernaung dan mewarnai semua perjalanan selama 8 tahun. Walau saya tidak serajin blogger lain, bahkan jumlah postingannya pun gak sampai ribuan, padahal kalau saya rajin setiap hari menulis blog minimal satu postingan aja, kira-kira 8 tahun (2004-2012) = (2x366) + (6x365) = 732+2190 = 2922 postingan.. :))

Delapan tahun ini, saya ternyata berubah. Dari semi-remaja menjadi wanita *ehm*. Saya kira saya sedikiiiit lebih dewasa dalam tulisan-tulisan saya. Sempat lho flashback ngeliat postingan-postingan saya di awal blog ini,  benar-benar memalukan deh. Pengennya mah dihapusin, tapi nanti jadi gak ada jejak keberadaan saya dari masa itu. Hihihi. 

Saya cukup bahagia dengan saya dan masa depan, bukan saya di masa lalu. Seperti bayi yang baru lahir dan kemudian melalui berbagai fase kehidupan, hingga saya menjadi sekarang ini. Adalah proses. Proses kehidupan saya selalu akan berjalan maju. Seperti blog ini juga ya. Mungkin ada saatnya nanti, akan terhenti saya datangi, akan terhenti saya naungi. Entah kapan. Tapi saya berharap ini bisa menjadi tempat terbaik untuk saya menjadi diri saya sendiri. ^^

Dan semoga masih banyak lagi cerita yang bisa saya tuangkan disini, tentang saya, tentang Raka, tentang semuanya. *Pengen deh bisa rajin nulis, tapi susah banget cari waktu luang, digangguin Raka terus* :|

So... Selamat bulan desember, 
Don't know why, but I love this month (karena banyak hari libur, diskon, dan pastinya peringatan pernikahan dengan si akang dong) :))

Thursday, December 06, 2012

Cerita Raka - Klinik Tumbuh Kembang

Kenapa tiba-tiba ingin bercerita tentang Raka? Ya lah, kan anak saya Raka :) Masa cerita-cerita anak tetangga, nanti jadi bergosip lagi.. he he he
Bulan desember ini, Raka masuk usia 21 bulan. It's three months to two years. Senang? Banget, so far saya masih gak nyangka bisa punya anak selucu dan selincah Raka. Apalagi saya bisa bersama Raka full time, 24hours 7days :) Karena banyak ibu yang masih gak punya kesempatan untuk seperti saya karena banyak faktor, entah pekerjaan atau apalah. Tapi itu semua kembali ke pilihan masing-masing kan ya? :)

Back to Raka lagi ah, 
Ceritanya begini, di usia Raka sekarang ini. Dia makin lincah, aktif, senang memegang apaaaa aja yang menarik perhatian, kadang suka ngikutin suara yang menarik buat dia. Bahkan suara-suara yang oleh kita orang dewasa gak terlalu diperhatiin kayak detik tik-tok jam dinding, dia malah perhatiin serius dimana suara itu berasal. Tapi susahnya, Raka kurang respon kalau ada yang mengajak dia bicara/ngobrol, bahkan kalau dipanggil namanya pun, jarang banget mau nengok atau melihat ke arah yang memanggil. Sedih kan? Bundanya udah teriak-teriak sambil jingkrak-jingkrak manggil nama Raka dari arah dapur, dia cuek aja asik sama apa yang lagi dilakukan. 

Raka juga belum bisa bicara sampai sekarang, walau ada sedikit babbling dan cerewet teriak-teriak. Tapi belum ada kata-kata yang bermakna. Cuma sekitar "mimimi, pipipipi, yayayaya". That's it. T_T
Saya emang pada dasarnya curigaan, jadi semakin curiga aja sama perkembangan Raka yang koq ya segitu-gitu aja, BBnya juga gak naik-naik :( hanya berkisar antara 9-10 kilo aja sejak usianya 1 tahun. Jadi sedikit down, mikirin PR saya banyak banget ini mengenai Raka. 

Berusaha mencari informasi dan sebab kemungkinan yang terburuk tentang tumbuh kembang Raka. Ternyata banyak hal, gak bisa dilihat dari satu sisi aja. 
Seperti misalnya, Raka belum bisa bicara. Kenapa? 
Apa karena dirumah Raka cuma tinggal dengan Ayah-Bundanya saja, hingga kurang stimulasi? 
Ataukah karena Ayah-Bundanya Raka kurang banyak berkomunikasi dua-arah dengan Raka? Banyak/sering nonton tv ngga?

Awh.. Berasa ditampar, jawabannya ya, ya, ya :(( Saya akui, Raka memang sering dikasih nonton video/film anak-anak di tv atau laptop atau handphone. Itu semua bikin Raka jadi "tenang", instead of kelakuannya yang terlalu lincah seperti berlari, loncat-loncat, lempar-lempar mainan atau berputar-putar. Bahkan untuk video edukasi pun ternyata lebih baik jangan sebelum anaknya "mampu berbicara", karena tontonan itu sifatnya satu arah dan tidak membuat anak terangsang untuk ikut berbicara. Ya ya bu dokter, saya mengaku salah. :(

Alasan saya memberi tontonan, mungkin ya karena itu, saya sendiri dirumah mengerjakan berbagai pekerjaan rumah yang tidak bisa ditinggal/ditunda, dan saya ga bisa mengandalkan jadwal Raka tidur yang sekarang sudah sangat berkurang (hanya sekitar 1-2jam saja kalau siang). Masak, nyuci, beberes, nyapu, ngepel, semua saya kerjakan sendiri. Tapi tetap, saya memang salah.. :((

Sulit menghapus perasaan bersalah ini, saya pun mencoba membicarakan ini dengan Ayahnya Raka. Kami pun mencoba mencari "jawaban" dari rasa penasaran dan bersalah saya. Kami mendatangi Klinik Tumbuh Kembang di salah satu RSIA di bekasi, didampingi dengan Dokter Tim KTK, dua orang dokter kemudian melalukan observasi dan interview dengan Raka dan kami. 

Hasilnya? Entahlah. Saya bingung. Sejujurnya, saya gak tanggap dengan dua dokter itu bicara. Mereka malah sibuk bicara berdua, soal kira-kira Raka begini, begitu.. Bla bla bla.. Yang membuat keputusan bagaimana kalau Raka disekolahkan disini (maksudnya terapi). 
Awalnya keluhan saya hanya tentang Raka yang belum bisa bicara atau mengeluarkan kata-kata sebagaimana mestinya anak seumuran dia. Dan dokter menyarankan sebelum Raka ikut Terapi Wicara, ada baiknya mengikuti Terapi Sensori Integrasi (SI) terlebih dahulu, katanya sih alasannya karena Raka kurang responsif terhadap perintah. Jadi ya disarankan itu dulu, menstimulus kemampuan sensor dan motoriknya supaya bisa merespon perintah dan kepatuhan. Jadi sejauh ini, belum ada keputusan pasti "ada apa dengan Raka" karena masih perlu observasi lagi. 

Aih aih, pusing deh denger istilah-istilah medis. Saya jadi lebih mudeng kalau ada yang ngobrol pake bahasa pemrograman aja deh :( daripada denger dokter bicara.

Dan, hari ini hari pertama Raka ikut terapi SI. Pertama kali, kita diajak masuk ruang SI oleh terapis-nya Raka (ibu Yayah namanya). Orangnya cukup menyenangkan menurut saya (karena wanita kali ya, jadi mungkin lebih bisa mengerti anak-anak). Raka asik-asik aja masuk ruangan bareng bundanya, tapi gak lama setelah ibu Yayah memberi gambaran pada saya tentang apa saja yang akan dilakukan pada terapi-nya Raka di SI, kemudian saya diminta keluar dan membiarkan Raka bersama terapisnya. 

Deg. Jantung rasanya mau copot deh. Lebay ya? :(( Beneran ini kali pertama saya ngelepas Raka sama "orang lain", selain ayahnya. Bahkan sama nenek-kakeknya aja gak pernah sampe saya "gak ada". Dan yang terjadi? Raka nangis sepanjang waktu terapinya, terus berharap pintu dibuka dan mencari bundanya. Saya yang ngintip-ngintip di luar jendela, pengen ikutan nangis deh bareng Raka.

Sesi terapi berjalan sekitar 40menit, setelah keluar dari ruang SI. Muka Raka merah, matanya sembab dan ingusnya meler :P Bener-bener deh gak berenti sampai akhirnya saya gendong baru berenti nangis. Ibu Yayah cerita apa aja yang dilakukan Raka selama terapi pertama ini :
  • Selama terapi, Raka nangis, sempat berhenti ketika naik mainan kayak rolling kuda-kudaan dengan ibu yayah duduk dibelakang Raka sambil ayun-ayun. 
  • Tapi nangis lagi ketika melakukan aktifitas lain. = =' 
  • Ketika diajak berinteraksi dengan mainan, dan diminta untuk mengambilkan mainan itu. Malah dilempar-lempar itu balok-balokan.
  • Masih belum respon kalau dipanggil, tapi kontak mata sudah ada

Minggu depan dijadwalkan terapi SI lagi deh :|
Mudah-mudahan ada peningkatan kemampuan Raka setelah ikut terapi ini. Mudah-mudahan juga saya dan suami terus kuat biar Raka gak kena racun "nonton" lagi. Eheu.. :((

Monday, November 12, 2012

Red Velvet Cake

Siapa yang gak tau Red Velvet Cake hayooh? Ga tau juga? Payah!
Ni cake paling juara deh enaknya (menurutku sih). Dibanding sama jenis cake lain, RVC ini paling te-o-pe-be-ge-te :)) Selain warna cakenya yang merah (dari mulai merah coklat sampe merah ngejreng) Yang pasti enak banget apalagi dipaduin sama frosting-nya pake cream cheese. Maknyus bener deh.

Dari awal muncul dan boomingnya ni RVC, gak terlalu ngeh sih, gak juga kebawa arus buat hunting cake ini. Hehehe. Tapi, pas beberapa waktu lalu ceritanya aku sama si akang jalan-jalan pas di bandung, di daerah braga, ketemu satu cafe yang 'katanya' punya RVC dan macarons yang enak. So, iseng-iseng deh beli RVC dan Rainbow cake (bukan macarons-nya). Dan..langsung terkejut-kejut sama rasa RVC yang paaaaaaaaassss banget dimulut :P~ *jujur aja, gak terlalu suka sama rainbow cake, rasanya sama aja kayak spongecake lain cuma berwarna*

Karena terngiang-ngiang terus itu rasa RVC.. *lebaynyaah*, akhirnya aku searching-searching dong cara buatnya. Emang keliatannya mudah sih bikinnya, tapi satu hal yang paling mengganjal aku buat bikin sendiri adalah "aku gak pernah bikin kue sendiri". Hahahhahhaha.. =))) Gak punya mixer, ga punya oven, gak punya semua perlengkapan bikin cake. Tapi keukeuh pengen bikin sendiri... :P

So, nemu deh blognya tante Ria.. si empu http://icip2didapur.blogspot.com/. Beliau emang udah terkenal di dunia food-blogger dengan home-baking cake-nya yang katanya enak banget. *So far, aku belum pernah mesen sebelumnya*. Liat-liat cake yang beliau bikin, aduhaaai.. menggoda sekali. Apalagi tante Ria juga bikin RVC, dan menurut testimoni orang-orang yang pernah mesen RVC sama beliau, enak banjettt. And kebetulan, bulan oktober kemarin, beliau buka kelas kursus juga dong untuk bikin RVC. 

Dan... Aku ikutan kursus deh. Hahahaha.. Padahal gak punya keahlian sama sekali deh bikin kue.. = =' *kan namanya juga belajar ya* :P Karena rumahnya tante Ria kebetulan deket sama rumahku juga. Jadi diijinin deh sama si akang, apalagi pulang kursus juga kan bawa oleh-oleh RVC hasil kreasi sendiri. Hihihihi...

Tante Ria ini, orangnya asik banget deh, mengerti kalau aku bener-bener awam, tapi ngasih semangat dan motivasi, everything is possible kalau kita punya niat. Jadi buat bikin kue juga katanya begitu.. :) 
Pas bikin RVC, kita diajarin prosesnya bener-bener detail banget. Walau ga nge-baking kue sendiri, tapi kita peserta kursus kebagian bikin frosting cream cheese yang yummy ituh.. and ngehiasnya kue tuh bikin deg-degan yah.. :))

Ahoooy... And this is it.. hasil hiasan RVC dan RV cupcake-nya.. mmm... Raka suka juga loh cupcakenya.. :)


Mudah-mudahan, bisa secepatnya pindah rumah, biar bisa beli perlengkapan bikin kue juga. Jadi bisa bikin kue sendiri deh.. Biar dirumah ada kerjaan. Daripada cengok kan? Ya kan ya kan? :))

Thursday, October 18, 2012

Sabar

Sempit,
Gelap,
Tak ada ruang bergerak,
Aku masih meredup dalam cangkang ini, 
Menanti waktuku menetas,
Saat itu,
Aku bukan telur lagi,
Aku.. Sebuah karya..
Sekarang masih harus menunggu,
Aku akan bersabar... :)


*dududududu

Monday, October 15, 2012

Small House Story - Part 2

Mumpung Raka bobo siang, jadi ada waktu ngeblog nih , mo cerita ah, tentang our soon-to-be home alias small house :) Sekarang progressnya udah lumayan keliatan apa yang kami mau. Karena rumahnya tipe 36 dengan luas tanah 72m², jadi bener-bener berasa kecilnya. Berkali-kali ngeganti disain renovasi, dan pengen memanfaatkan ruang yang kecil, tapi bisa maksimal hasilnya. Pusing kan. ;)

Ini denah aslinya, tapi small house kami posisinya kebalikan dari denah ini. Dari developernya, sengaja belum dibikin dapur, jadi ada tanah kosong dibelakang kurleb 3x3m. So emang mau gak mau ya harus di renovasi lah ya. :|
Karena rumahnya menghadap barat, jadi kepikiran pengen bikin tempat ngejemur diatas dapur, soalnya kalau gak ngejemur baju dibawah jam 12 siang, pasti jemurannya gak kering deh. Tapi itu tadinya cuma rencana aja, belum akan dibikin sekarang-sekarang. Mau fokus ke dapur, kamar mandi, garasi dan pagar dulu. Tapi kesini-kesininya, yang tadinya cuma dibikin cakar ayam buat tiang lantai dak atas, akhirnya dari pada nanggung, sekalian deh jadi beneran di dak. Hehehe *membengkak lagi ini biayanya*

Dari awal bikin rencana untuk menghemat dengan estimasi biaya seminimal mungkin, tapi bisa renovasi yang kita mau. Pada kenyataannya, tetep aja gak bisa. Yang ada malah dikit-dikit adaaa aja tambahan ini itu. Jadilah meleset dari rencana awal dan waktu selesainya renovasi kayaknya bakal mundur lagi nih. Nunggu kumpul uangnya dulu. Heheh. *harus rajin kasih semangat ayahnya Raka ^^

Dan rencana awal mau bikin renovasinya kayak gini nih. *Niat dong ngegambar sendiri, hihihi* Mau bikin ruang cuci dibelakang dan pake tangga putar buat keatas. Untuk dapur pengen bikin kitchen set yang langsung aja gitu nyatu sama ruang tamu. Tapi ternyata, hasil perhitungan tung, tung tung.. Susah bikinnya kata si pak mandor, ruangnya jadi makin sempit. Walau sebenernya bisa sih, paling ruang tamu jadi lebih sempit aja. Dan si ayah pengennya ruang tamunya lebih lega. Ahhh = =' pusing deh.

Akhirnya kesepakatan awal mau bikin tangga putar, diganti lah jadi tangga-L dan ruang cuci yang tertutup dibongkar aja. Jadi dari ruang tamu ke dapur plong aja gitu gada sekat.. :) *mudah-mudahan gak aneh deh jadinya.. :P

Kamar mandi juga awalnya sederhana banget, pake bak mandi yang pemasangannya miring. Hahahha. Bener-bener seadanya deh si developer ini. Bikin kita harus keluar kocek lebih gede ini mah.. :)
Pleus toiletnya ngadep ke barat dong, ke arah kiblat banget, gak sopan deh, wehehhe. Jadinya dipindahin deh posisinya ke arah selatan. Jadi begitu buka pintu kamar mandi, langsung berhadapan dengan toilet deh. Hahaha. Kamar mandinya mungil sih.. :))

Yang paling bikin kesel sebenernya sih si pak mandornya, kadang apa yang kita mau, dia iya iya aja, tapi begitu pelaksanaan yang ada hasilnya koq jadi beda gitu. Jadi dikit-dikit dirubah lagi, lama lagi pengerjaannya. Hadeeuuuh.. = =' 

Ini ada sedikit poto-poto sebelum direnov dan sedang direnov.. :)

Ini kondisi sebelum di renovasi, bagian ruang tamu, dapur and kamar mandi(pintunya doang) ^^

Raka nampang dulu :) *masih bisa lari-larian sebelum direnovasi*


Ini picture proses renovasinya, berantakan dimana-mana ya.. ^_^

Tangganya belum jadi, mungkin minggu depan baru beres. Belum kitchen setnya, belum pagarnya, belum ini belum itu.. Ntah kapan selesainya ini rumah.. :) Mudah-mudahan secepatnya. *gak sabar*

*Raka bangun tepat banget deh waktunya... ^_^ see ya next time dicerita small housenya ya..
Wassalamualaikum.. 

Monday, October 01, 2012

Small House Story - Part 1

There's a living room in my new small house
There's a dining room in my new small house
There's a kitchen in my house
There's a bedroom in my house
There's a bathroom in my house
It's a small house after all.. 3x
It's a small.. small house... 


Itu lirik lagu dari salah satu lagu di vcd lagu anak-anak yang hampir tiap hari dinyalain buat Raka loncat-loncatan kegirangan. :)

Inget sama lagu ini, jadi inget juga sama rumah yang ceritanya bakal jadi rumah tetap keluarga kecilku:) Sekarang ini sedang tahap renovasi yang tidak kunjung selesai karena empunya punya banyak permintaan, jadinya ganti lagi ini itu, tunda lagi ini itu dan mundur lagi deh waktunya.

Awal mula pengen punya rumah, setelah sedikit sentilan dari orang tua tentang kapan kami berencana beli rumah, padahal saat itu aku baru lahiran dan masih sok sibuk sama baby Raka. Rencana sih dari sebelum nikah juga udah mau banget punya rumah sendiri, tapi duitnya yang ga ada. hahahha.. :)) Kepake terus buat hal-hal ga jelas, sampe biaya selama hamil, lahiran, baby raka adaaa aja yang bikin gak bisa saving money.. :P

Akhirnya tahun kemarin, niat deh cari-cari rumah. Sebenernya sih aku gak ikut-ikutan nyarinya. Cuma dapet infonya aja dari si akang, dia liat rumah disini ato disana. Akhirnya pilihannya jatuh di salah satu perumahaan daerah tambun bekasi. Dekat juga sama tempat kerja si akang dan yang lebih penting adalah, ini perumahan paling murah yang si akang dapet dari hasil survey Aku mah iya-iya aja sih. Rumahnya tipe 36/72 m² dan letaknya di tengah-tengah, padahal pengennya kalau bisa dapet yang tipe 45/96m² dan lokasinya dipinggir jadi bisa dapet tanah hook gitu. Ternyata keabisan, banyak juga peminatnya katanya.

Akhirnya agak lama juga dari proses booking, dp, sampai akad kredit, sekitar 3-4 bulan. Bulan maret akad kredit dan 1 bulan kemudian, kita dikasih kesempatan untuk checking-checking kondisi bangunan dan ngajuin komplain kalau ada yg retak-retak atau listrik gak nyala.

Begitu pertama liat, kesan pertamaku adalah cuma 'oh, biasa banget, pantesan murah'. Hehehe *istri kurang ajar ni*. Tapi beneran, liat kondisinya yang biasa banget, penuh retakan, cat dinding/pintu gak rapi.. bener-bener mencerminkan 'prices is not lie' :) Dan otak langsung berputar, gila.. ini mah banyak banget yang harus direnovasi, dan kalo ngikutin nafsu mah, this house should be renovated totally. *deep inhale* -..-'

See?
Kecil dan mungil kan, so I called it a small house. Hehehe. Sebenernya sih rumah segini cukup buat kami yang masih jadi keluarga kecil juga.
Tapi berdasarkan hasil dilapangan yang menunjukkan banyaaaaak banget yang harus direnovasi, jadi mikir lagi deh buat ngumpulin duit renovasinya.
Akhirnya, sedari akad kredit dan komplain ke developer, itu rumah dianggurin hampir setengah taun deh. Bener-bener gak ditengok, gak diliat, gak nyari tukang juga. Cuek aja gitu, kayak lupa punya rumah. Hahahha, abis pusing deh kudu ngumpul-ngumpul duit renovnya.

And pas mulai masuk bulan Ramadhan, baru deh mulai ngedatengin rumahnya, sekedar diliat doank kali aja tiba-tiba berubah kinclong. Ternyata malah nambah banyak ilalang plus tanah urugan rumah samping yang ditumpuk didepan rumah kita. What the *e*l bgt sih tu tetangga.. :( Jd banyak sampah juga. Hadeuuh. Dan dari pihak marketing tu rumah juga ikut bantu nyari tukang bangunan yang biasa ngerjain renovasi rumah-rumah di komplek ini.

Tadinya sih pengennya pake tukang yang disaranin sama mama-papa, yang dulu juga ngebantu waktu ngebangun rumah mama. Tapi disaranin sama pak marketingnya itu, ijin dulu sama mandor-mandor disini. Soalnya mereka yg biasa tau daerah sini. *Kesannya kyk diciriin gt klo gak pake jasa mereka, serem bgt deh :P*

Yah, daripada kenapa-kenapa sama rumah kita. Pake deh jasa tukang yang dikenalin sama pak marketing sama mandornya, kita namakan pak mandor disini. Orangnya sotoy deh, agak nyombong sama hasil kerjanya, kita dikasi keliling ke rumah-rumah yang lagi dikerjain sama dia. Ya emang lumayan bagus sih kerjaannya, rapi. Tapi buat aku sih, so-so lah.. belum luar biasa. Rata-rata designnya sama semua, standar. 

Begitu aku ngajuin design renovasi yang kumau, dia mikirnya lamaaaaa banget dan ngasih suggest yang panjang bin muter-muter yang intinya sama, mendingan ngikutin apa yang udah dia kerjain. Berarti rumah gw harus sama gitu bentuk renovasinya sama orang lain? eeeh.. Nehi!!! Tak mau la, aku pengen beda dari yang lain. Akhirnya kompromi panjang, dia menyanggupi.

Dan awal september kemarin, sudah dimulai lah renovasinya. Sampai hari ini, baru selesai instalasi pipa dan septictank, pindah letak pintu kamar utama dan buat rangka buat cor/dak tempat jemur/toren di atas dapur.
Soal keramik dan design dapur, sampe sekarang belum sreg. Ganti-ganti mulu deh maunya.

Let's see.. Jadi apa itu rumah nanti..:)